Bagi sebagian orang, Internet menjadi sesuatu yang penting. Penting karena hampir sebagian besar masyarakat kita menggunakan Internet. Dari apa yang saya baca di website Kominfo. Indonesia berada pada urutan ke enam terbanyak dalam penggunaan Internet di dunia. Pada survei yang dilakukan di tahun 2016. Sebanyak 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Adapun total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta orang, kompas tekno. Itu artinya lebih dari 50% masyarakat kita telah menggunakan internet.

Sedikit berjalan kebelakang, sekitar tahun 2002-2003. Saat masa-masa SMP saya pernah suatu kali mendapat tugas biologi. Membuat kliping tentang tanaman. Satu-satunya sumber yang bisa saya pikirkan adalah majalah Trubus. Saat itu Internet adalah sesuatu yang masih asing bagi saya. Dan mungkin juga masih asing bagi teman-teman saya. Karena jika mereka sudah mengenal internet. Tentu mereka tidak akan repot-repot untuk berburu majalah itu ke toko buku bekas.

Satu tahun setelah itu, barulah saya mengenal internet. Bisnis warnet juga sudah menjamur di mana-mana. Saat itu setidaknya ada tiga cara yang populer untuk mengakses Internet. Lewat warnet, memasang internet dirumah, atau menggunakan Modem USB. Seperti menggunakan USB Modem D-Link DWM-152.

d-link-dwm-152

Bersama Ono di sini. Izinkan saya membawa anda kembali untuk bernostalgia dengan produk yang satu ini.

Dalam Kotak

dalam-kotak-d-link-dwm-152

Dalam kotak, kita akan mendapatkan USB Modem D-Link DWM-152, lembar penjelasan garansi, lembar penjelasan instalasi. Dalam kotak kita tidak akan menemukan CD driver software pendukung. Driver tersebut sudah terdapat pada USB Modem. Ketika anda menyambungkan USB Modem ini ke perangkat yang anda miliki. Maka, USB Modem akan melakukan perintah otomatis untuk melakukan penginstalan driver tersebut.

Desain

D-Link DWM-152 yang saya miliki berwarna hitam. Selain hitam, seingat saya produk ini memiliki pilihan warna putih. Keseluruhan badan dan penutup USB dilapisi oleh cat matte. Sehingga, terasa kesat jika dipegang. Pada bagian depannya terdapat logo D-Link dan lampu indikator. Lampu indikator akan berwarna merah jika tidak terdapat sambungan internet dan berwarna kuning kehijau-hijauan jika sambungan internet lancar.

lampu-indikator-d-link-dwm-152

Pada bagian belakang terdapat info serial number, imei, dan nomor tipe produk.

bagian-belakang-d-link-dwm-152

Pada bagian samping kiri terdapat slot Micro SD. Saya tidak tahu pasti kapasitas maksimal yang didukung slot ini. Tetapi, ketika saya memasukkan Micro SD ukuran 32 gb. USB merespon dengan lancar. Dengan ukuran sebesar itu saya rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan file seperti dokumen word dan office lainnya.

port-micro-usb-d-link-dwm-152

micro-sd-d-link-dwm-152

Pada bagian bawah terdapat 2 lubang. Pada awalnya saya mengira ini adalah lubang untuk memasang gantungan kunci. Tetapi, setalah saya coba tidak bisa juga. Sepertinya ini adalah lubang ventilasi yang berfungsi mengeluarkan udara panas dari dalam USB.

ventilasi-udara-d-link-dwm-152

Jika dibuka penutup USBnya terdapat slot untuk menaruh SIM Card. SIM Card yang digunakan adalah SIM CARD berukuran standar.

port-sim-card-d-link-dwm-152

Konektivitas

D-Link DWM-152 menggunakan USB 2.0 untuk menyambungkannya ke perangkat yang anda miliki. Produk ini kompatibel dengan SIM Card berukuran standar. SIM Card yang berfungsi hanyalah SIM Card yang berjalan pada jaringan GSM. Kecepatan jaringan bisa mencapai 3.5 G.

Kesimpulan

D-Link DWM-152 sebagai sebuah USB Modem memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi saya saat itu. Bahkan, sampai sekarang pengalaman itu masih bisa saya rasakan saat ini. Pertama kali membeli produk ini sekitar tahun 2011 dan sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Hal itu membuktikan bahwa produk yang saat ini dihargai Rp 427.464 itu memiliki build quality yang baik.

Pengalaman paling menyenangkan dari produk ini adalah kompatibel dengan semua kartu berjaringan GSM. Sehingga, saya dapat mengganti kartu sesuai kebutuhan saya. Saat si merah tidak memberikan sinyal maka saya beralih ke si biru dan sebaliknya. Jika keduanya terlalu mahal maka bisa beralih ke si tiga. Selain itu karena USB Modem tidak menggunakan baterai maka selama perangkat anda menyala, USB Modem juga menyala. Hal ini tentu memberikan kemudahan bagi saya untuk menghabiskan paket malam kuota internet. Download file bergiga-giga, tinggal tidur, bangun, download sudah selesai.

Kemudahan-kemudahan itulah yang mungkin tidak saya rasakan pada Mifi yang saat ini saya gunakan. Apalagi, kebanyakan produk Mifi yang berada dipasaran sudah dibundle dengan provider tertentu. Sehingga, kita tidak bisa mengganti provider sesuai dengan keinginan kita. Walaupun ada Mifi yang bisa kompatibel dengan semua provider, harganya tentu lebih mahal.

Tapi, USB Modem memiliki kelemahan dalam mobilitas. USB Modem harus tersambung (tercolok) terus keperangkat yang kita miliki (komputer atau laptop). Sehingga, tidak dapat digunakan setiap waktu layaknya Mifi. Hal itu tentunya akan sangat tidak efisien di era smartphone saat ini. Oleh karena itu muncul lah Mifi. Lebih mudah dibawa keman-mana. Sehingga kita dapat tersambung ke jaringan internet lebih mudah (asal baterainya terisi).

Teknologi terus berkembang, akan tiba masanya sebuah produk tidak dapat lagi digunakan. Bukan karena rusak atau tidak berfungsi. Tapi, karena tidak bisa memenuhi kebutuhan. Begitu juga dengan produk ini. D-Link DWM-152. Jadi, sebelum itu terjadi nostalgia review hadir sebagai bahan nostalgia anda pada produk-produk yang telah “usang”.

Saya Mas Wahono undur diri.

Selamat bernostalgia.

Salam JuruReview.

Advertisements