Sinetron ini telah menemani saya dan keluarga selama 11 kali ramadan. Bisa jadi anda yang membaca ini, juga ikut merasakannya. Para Pencari Tuhan. Sebuah tema besar yang terus membawanya sampai ke 2017. Bercerita tentang bagaimana sekumpulan manusia “mencari” tuhannya. Sebuah pencarian yang membawa kita pada percakapan yang kadang serius dan kadang penuh humor. Karena memang hidup bercerita tentang pencarian lalu menemukan.

Dari awal kemunculannya saya sudah tertarik dengan sinetron yang satu ini. Pada 2017 sinetron Para Pencari Tuhan telah sampai di jilid 11. Jika dihitung dari awal kemunculannya berarti Para Pencari Tuhan telah menyelesaikan hampir 330 episode. Dengan perhitungan 1 ramadan = 30 episode x 11. Lalu, bagaimanakah sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 11 ini ? Bersama Ono di sini. Selamat datang di sesi Comment Para Pencari Tuhan Jilid 11.

Sinopsis

Para Pencari Tuhan Jilid 11

Para Pencari Tuhan Jilid 11 masih bercerita tentang kehidupan warga kampung kincir. Warga kampung kincir yang masih sama dengan jilid-jilid sebelumnya. Masih melupakan tuhannya. Masih tidak mau berjamaah dalam beribadah. Serta, masih sering beradu opini untuk membenarkan opininya masing-masing. Sebuah keadaan yang rasanya tidak asing bagi kita.

Di tengah keadaan seperti itu, hujan lebat melanda kampung kincir. Tanggul yang berada di sisi kampung perlahan meluap lalu jebol. Maka, seketika kampung kincir rata dengan air. Walaupun begitu, masih banyak yang selamat dari bencana ini. Beberapa orang yang selamat berkumpul di penampungan. Dari penampungan inilah cerita mulai berkembang. Kita akan disajikan tentang kehidupan warga kampung kincir di penampungan. Serta melihat bagaimana mereka memaknai bencana yang sedang mereka alami.

Dialog

Dialog adalah salah satu hal yang membuat sinetron ini saya nantikan dari tahun ke tahun. Dialog yang disajikan cenderung serius, kuat, tapi tetap jenaka. Salah satunya dialog berikut ini.

Kalau tidak salah, dialog di atas terjadi pada Para Pencari Tuhan Jilid 10. Saat itu Domino (keponakan Bang Jack) berniat untuk melamar Kalila (keponakan Pak Jalal). Tapi, Domino ragu. Saat itulah Bang Jack memberikan sedikit nasihat seperti di atas.

Di jilid 11, dialog yang dihadirkan tetap serius. Tetapi, lebih banyak disisipkan komedi. Salah satu contohnya ada pada adegan Paul dan Ustad Feri terombang-ambing di tengah banjir. Saat itu Paul berada di atas rakit kecil yang hanya bisa menampung satu orang dewasa. Sedangkan Ustad Feri berada dipinggirannya memegang rakit kecil tersebut. Ustad Feri yang sudah kelelahan meminta Paul untuk bergantian menaiki rakit. Percakapan pun dimulai.

Jenis-jenis dialog seperti di atas akan sering kita temui dalam sinetron ini. Dialog yang menyinggung. Dialog yang jenaka. Dialog yang akan membuat kita sering bertanya pada diri sendiri.

Karakter

Melihat perjalanan selama 11 tahun pada sinetron ini sama halnya seperti melihat Harry Potter. Dalam Harry Potter kita bisa melihat Daniel Radcliffe tumbuh dari anak-anak menjadi Remaja. Di sinetron ini kita bisa melihat bagaimana tubuh kurus Udin perlahan gemuk dari jilid ke jilid. Perubahan-perubahan fisik terus terjadi. Tapi, karakter dari setiap pemain tetap konsisten.

Penggarapan karakter pada sinetron ini saya anggap menarik. Menarik karena karakternya terasa lebih mendekati kenyataan. Tidak ada karakter yang benar-benar jahat. Tidak ada juga karakter yang benar-benar baik. Semuanya masih berimbang layaknya manusia.

Tidak ada tingkatan karakter yang paling baik dan karakter yang paling jahat. Salah satu contohnya ada pada karakter Asrul. Asrul dikenal sebagai seorang pribadi yang rajin beribadah, orang yang bersyukur, rajin. Tapi, pada beberapa kesempatan Asrul tetap melakukan keburukkan.

Pernah suatu hari Asrul diberi amanah oleh Pak Jalal untuk membeli nasi padang untuk korban di tempat pengungsian. Tapi, demi mendapat selisih uang yang besar. Asrul mengganti nasi padang dengan ketoprak.

Hal-hal seperti itulah yang rasanya sering kita lihat di kehidupan nyata. Seolah penulis ingin menunjukkan bahwa setiap orang berpotensi untuk menjadi buruk. Maka, yang bisa mencegahnya adalah pengendalian diri. Sepanjang sinetron ini kita akan disajikan dengan hal-hal tersebut. Orang-orang yang baik bisa melakukan hal buruk dan begitu juga sebaliknya.

Relevan kah dengan kehidupan ?

Daripada disebut relevan saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai refleksi kehidupan. Pada beberapa kesempatan tentu kita tidak akan temukan orang-orang di dunia nyata berdialog dengan nada indah. Karena menurut saya sesungguhnya kata-kata indah memang lebih enak dibaca atau didengar. Agak aneh rasanya ketika dialog di sinetron atau film dipraktikkan ke kehidupan nyata.

Langkah yang mungkin tepat adalah memaknai kata-katanya untuk diamalkan di kehidupan nyata. Tentunya kata-kata positifnya. Yang baik diambil dan yang buruk diingat saja.

Tapi, perlu diingat setiap sinetron, film, musik, atau karya apapun itu. Bisa diinterpretasikan berbeda oleh setiap orang yang menikmatinya. Begitu dengan sinetron ini. Jadi, jika anda memiliki komentar yang berbeda. Silahkan tuliskan di kolom komentar yang ada di bawah. Sebagai penutup dari komentar ini saya putarkan sebuah lagu dari antrabez – syukuri ujianmu. Lagu ini juga menjadi soundtrack dari Para Pencari Tuhan Jilid 11. Selamat mendengarkan.

Saya Mas Wahono, undur diri

Salam, Juru Review.

Advertisements